

.png)
.png)

Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level Rp17.130 per dolar AS, mencetak rekor terendah baru sepanjang sejarah.
Pelemahan ini terjadi di tengah kombinasi tekanan global, termasuk penguatan dolar AS, lonjakan harga energi, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Selain faktor eksternal, arus keluar dana asing dari pasar domestik juga turut memperburuk tekanan terhadap rupiah, seiring meningkatnya sikap hati hati investor global.
Kondisi ini berpotensi berdampak pada inflasi dalam negeri, terutama melalui kenaikan harga barang impor dan biaya produksi.
Bank sentral Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga volatilitas tetap terkendali.
Pelemahan rupiah juga menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi daya beli masyarakat serta kinerja sektor industri yang bergantung pada impor.
Dengan kondisi global yang masih bergejolak, pergerakan nilai tukar ke depan diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh dinamika eksternal, khususnya kebijakan moneter global dan perkembangan pasar energi.
Situasi ini menegaskan bahwa stabilitas rupiah saat ini sangat bergantung pada faktor global yang sulit diprediksi.